Orang Miskin Tambah Banyak (Yth Mbak Sri Mulyani) - ditulis kecil saja.
(artikel ini kiriman dari seorang rekan - semoga Indonesia lebih baik)
Kejadiannya sekitar tahun 622 Masehi.
Tapi,
Kreativitas Abdurrahman pun
Mbak Sri Mulyani, pengalaman
Dengan demikian, secara formal jumlah kemiskinan
Untuk
Abdurrahman bin Auf seorang yang hidup berkecukupan di Mekkah. Ia jatuh
miskin begitu mengikuti Rasul hijrah ke Madinah. Dengan ukuran materi
apa pun, kondisinya jauh di bawah ambang batas kemiskinan. Rasul
memahami keadaan itu dan memberi solusi cerdas. Setiap pendatang
dipersaudarakan dengan keluarga setempat. Abdurrahman dipersaudarakan
dengan seorang keluarga berkecukupan yang sangat baik. Keluarga itu
menawarkan untuk memberikan separuh hartanya pada Abdurrahman.
Abdurrahman menggeleng. Ia boleh miskin materi, tapi ia tidak akan
pernah menjadi miskin mental. Jangankan meminta, ia pun pantang
menerima pemberian orang selain upahnya sendiri. ‘Tangan di bawah’ sama
sekali bukan perilaku mulia. Abdurrahman bukan hanya tahu, melainkan
memegang teguh nilai itu. Ia pun memutar otak bagaimana dapat keluar
dari kemiskinan tanpa harus menerima pemberian orang lain. Ia hanya
minta ditunjukkan jalan ke pasar. Ia pun pergi ke pasar dan
mengamatinya secara cermat. Dari pengamatannya ia tahu, pasar itu
menempati tanah milik seorang saudagar Yahudi. Para pedagang berjualan
di sana dengan menyewa tanah tersebut, sebagaimana para pedagang
sekarang menyewa kios di mal.
muncul. Ia minta tolong saudara barunya untuk membeli tanah yang kurang
berharga yang terletak di samping tanah pasar itu. Tanah tersebut lalu
dipetak-petak secara baik. Siapa pun boleh berjualan di tanah itu tanpa
membayar sewa. Bila dari berdagang itu terdapat keuntungan, ia
mengimbau mereka untuk memberikan bagi hasil seikhlasnya. Para pedagang
gembira dengan tawaran itu karena membebaskan mereka dari biaya
operasional. Mereka berbondong pindah ke pasar baru yang dikembangkan
Abdurrahman. Keuntungannya berlipat. Dari keuntungan itu, Abdurahman
mendapat bagi hasil. Semua gembira. Tak perlu makan waktu lama,
Abdurrahman keluar dari kemiskinan, bahkan menjadi salah seorang
sahabat Rasul yang paling berada.
Abdurrahman itu menunjukkan miskin materi gampang diatasi sepanjang
tidak miskin mental. Namun, bila kemiskinan yang kita hadapi adalah
miskin mental, sungguh sulit buat mengatasinya. Kesadaran seperti ini
adalah fondasi paling mendasar buat mengatasi kemiskinan yang semakin
membesar setelah terjadi kenaikan harga BBM yang lalu. Pandangan Mbak
Sri benar, Subsidi Langsung Tunai (SLT) mampu mengurangi angka
kemiskinan. Hal itu terjadi bila kita menilai kemiskinan semata dengan
berapa jumlah pendapatan yang mereka terima. Bantuan Rp 100 ribu
sebulan, secara nominal telah menaikkan pendapatan warga miskin. Mereka
yang persis di bawah garis kemiskinan akan langsung menjadi ‘tidak
miskin’.
akan berkurang. Tapi, kita tahu mengatasi kemiskinan tidak sesederhana
itu. Dari pengalaman nyata di lapangan serta disiplin ilmu yang saya
dalami, penumbuhan mental harus lebih dikedepankan untuk mengatasi
kemiskinan. SLT tanpa disadari telah memperlemah mental warga miskin.
Sistem ini telah mendorong warga miskin untuk berdesak-desak mengambil
jatah bantuan tersebut yang menimbulkan berbagai masalah sosial lain.
SLT tanpa sengaja telah ‘membudayakan’ perilaku ‘tangan di bawah’. Bila
sistem ini diteruskan berkepanjangan, kita akan mendapati berjuta warga
bangsa ini akan menganggap perilaku ‘tangan di bawah’ adalah wajar.
jangka pendek, SLT memang bermanfaat. Sistem ini bukan hanya
meringankan beban warga miskin di minggu pertama setelah menerimanya,
tapi juga efektif buat penyampaikan pesan politis bahwa kita
memperhatikan mereka. Namun secara bertahap, bentuk subsidi ini perlu
segera diubah ke sistem yang lebih mengangkat martabat serta mental
warga miskin. Layanan pendidikan 100 persen gratis hingga SMTA, layanan
puskesmas gratis, hingga pembagian kupon diskon untuk membeli sembako
merupakan bentuk subsidi yang lebih tepat. Bentuk subsibi demikian
tidak akan menenggelamkan warga miskin dalam kemiskinan abadi seperti
SLT, melainkan akan membuat mereka bangkit seperti Abdurrahman anak Pak
Auf.
ini loh kondisi indonesia rakyat bukannya miskin tetapi dimiskinkan
-rakyat butuh makan, bukan hanya bualan politik semata-